Asuransi Penyerap Terbanyak Obligasi PLN

Jakarta – Sektor asuransi menjadi pembeli terbesar obligasi yang diterbitkan PLN. Dari total obligasi yang diterbitkan PLN sebesar Rp 2,2 triliun, sektor asuransi menyerap Rp 961,5 miliar atau sekitar 43,7%.

Direktur Keuangan PLN Setyo Dewo Anggoro menjelaskannya dalam keterangan pers, Minggu (11/1/2009). Sebelumnya, PLN menjadwalkan akan mencatatkan obligasi konvensional dan sukuknya ini di Bursa Efek Indonesia pada besok, Senin (12/1/2009).

Selain asuransi, pembeli obligasi PLN lainnya adalah perbankan sebesar Rp 320 miliar, perusahaan dana pensiun Rp 625,5 miliar, manajer investasi sebesar Rp 20 miliar, dan korporasi atau institusi sebesar Rp 135 miliar.

Selanjutnya ada sekuritas atau sindikasi yang menyerap sebesar Rp 39,5 miliar, yayasan sebesar Rp 94 miliar dan perorangan sebesar Rp 4,5 miliar.

Para pembeli ini akan menyerap obligasi konvensional dan sukuk yang diterbitkan PLN senilai total Rp 2,2 triliun. Obligasi PLN ini terdiri dari obligasi konvensional sebanyak Rp 1,44 triliun dan sukuk sebesar Rp 760 miliar.

Obligasi konvensional terdiri dari Obligasi PLN X seri A sebesar Rp 1,015 triliun dengan jangka waktu 5 tahun dan bunga 14, 75%. Sementara untuk seri B sebesar Rp 425 miliar dengan jangka waktu 7 tahun.

“Opsi call di ulang tahun ketiga dengan bunga 15% sehingga total obligasi PLN X adalah Rp 1.440 miliar,” katanya dalam pesan singkat.

Sedangkan untuk Sukuk Ijarah PLN III tahun 2009, terdiri dari seri A sebesar Rp 293 miliar dengan imbalan ijarah sebesar Rp147, 5 juta untuk setiap Rp 1 miliar per tahun dan jangka waktu 5 tahun. Sementara seri B sebesar Rp 467 miliar dengan imbalan ijarah sebesar Rp150 juta untuk setiap Rp 1 miliar per tahun.

Opsi call juga tersedia di ulang tahun ketiga sehingga total sukuk mencapai Rp 760 miliar.

Seperti diberitakan sebelumnya, dana yang dihimpun dari obligasi ini akan digunakan untuk membiayai pembangunan pembangkit dan transmisi untuk memenuhi target program fast track 10.000 MW pada 2010. Selain itu sebagian dananya juga akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik masyarakat.

Penjamin pelaksanan emisi obligasi ini adalah PT Danareksa Sekuritas, PT Trimegah Securities Tbk, dan PT Indo Premier Securities.

Minggu, 11/01/2009 12:26 WIB
Asuransi Penyerap Terbanyak Obligasi PLN
Alih Istik Wahyuni – detikFinance

Pentingnya Investasi

Setiap orang perlu berinvestasi karena nilai uang yang ia miliki akan selalu menyusut tergerus inflasi. Nah, agar uang kita selalu berbiak, kita harus mencari instrumen-instrumen investasi yang bisa mengalahkan inflasi itu. Karenanya, jangan berpuas diri jika Anda hanya menempatkan duit Anda di deposito. Sebab, deposito sering tak bisa mengalahkan inflasi.

Yang pertama, kita perlu melakukan investasi karena kita pasti memiliki kebutuhan-kebutuhan (needs) maupun keinginan-keinginan (wants) yang jumlahnya sangat banyak. Nah, sebagian kebutuhan atau keinginan itu tak akan bisa terpenuhi jika kita hanya mengandalkan arus dana dari gaji saja. Kebutuhan atau keinginan inilah yang sering disebut sebagai tujuan investasi.

Tujuan investasi ini bisa berupa hal yang sangat sederhana, tapi bisa juga hal yang sangat muluk. Sebagai contoh, kita ambil tujuan yang tengah-tengah saja. Misalnya, Anda ingin membeli sebuah mobil baru seharga Rp 100 juta. Jika gaji Anda sebulan sekitar Rp 6 juta dan Anda hanya bisa menyisihkan dana Rp 1 juta per bulan, artinya Anda membutuhkan waktu 100 bulan untuk bisa mengumpulkan Rp 100 juta. Dengan menginvestasikan uang itu, misalnya di instrumen reksadana, mobil itu kemungkinan besar akan terbeli lebih cepat. Soalnya, duit yang kita investasikan itu tidak mandek, tapi terus berbiak.

Nah, agar investasi Anda lebih fokus, para perencana keuangan sering menganjurkan agar Anda menetapkan tujuan investasi terlebih dahulu sebelum benar-benar melakukan investasi. Tujuan investasi itu harus dirumuskan secara jelas; termasuk juga jangka waktunya. Misalnya: “Saya ingin membeli rumah seharga Rp 150 juta lima tahun lagi”. Jika tujuan investasi sudah jelas, Anda tinggal mencari instrumen investasi yang paling pas untuk mencapai tujuan investasi itu.

Selain karena ada tujuan investasi, yang kedua, kita juga perlu berinvestasi karena duit kita selalu terpapar kepada inflasi. Selama ada inflasi atau kenaikan harga-harga, nilai uang akan selalu merosot. Nah, agar nilai uang kita tidak tergerus inflasi, kita harus melakukan investasi.

Idealnya tentu saja kita harus mencari instrumen investasi yang bisa memberikan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi. Dengan begitu, nilai uang kita akan selalu tumbuh.

Karenanya, para pakar menilai deposito di bank tak masuk kategori investasi. Sebab, setelah dipotong pajak, bunga deposito itu biasanya belum mampu menutup inflasi. Ini berbeda dengan saham, obligasi, reksadana, atau properti yang sering bisa mengalahkan inflasi.

http://www.kontan.co.id

IHSG Tutup Tahun di 1.355

Selasa, 30/12/2008 16:17 WIB
IHSG Tutup Tahun di 1.355
Irna Gustia – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup transaksi akhir tahun 2008 di zona positif. Meski perdagangan saham sepi, minat beli investor tetap hidup dengan memburu saham-saham telekomunikasi dan perbankan.

IHSG mencatat tahun ini sebagai tahun prestasi sekaligus tahun keterpurukan. IHSG sempat mencatat rekor tertinggi pada 9 Januari 2008 di level 2.830,263. Meroketnya harga saham tambang yang mengikuti kenaikan harga minyak dunia membuat IHSG semarak.

Namun memasuki triwulan IV-2008 yakni di awal Oktober, IHSG mengalami musim gugur yang terburuk karena krisis yang melanda pasar finansial global dan kasus gagal bayar saham grup Bakrie. IHSG pun berada di posisi terendahnya di level 1.111,390 pada 28 Oktober 2008.

Dan di penghujung tahun ini, pada penutupan perdagangan saham Selasa (30/12/2008) IHSG naik 14,516 poin (1,08%) menjadi 1.355,408. Pada sesi I IHSG sempat naik 18,370 poin (1,37%) menjadi 1.359,262.

Indeks LQ-45 naik 3,790 poin (1,42%) menjadi 270,232 dan Jakarta Islamic Index 9JII) naik 1,226 poin (0,57%) menjadi 216,189.

Perdagangan saham hari ini mencatat transaksi sebanyak 28.480 kali, dengan volume 3,504 miliar unit saham, senilai Rp 1,674 triliun. Sebanyak 75 saham naik, 67 saham turun dan saham 71 saham stagnan.

Saham-saham yang naik harganya antara lain, Indosat (ISAT) naik Rp 150 menjadi Rp 5.750, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 175 menjadi Rp 4.575, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 175 menjadi Rp 4.575, Telkom (TLKM) naik Rp 100 menjadi Rp 6.900, dan Bank Danamon (BDMN) naik Rp 25 menjadi Rp 3.100.

Sedangkan saham-saham yang turun harganya antara lain, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 20 menjadi Rp 910, Timah (TINS) turun Rp 10 menjadi Rp 1.080 dan Gudang Garam (GGRM) turun Rp 225 menjadi Rp 4.250.

Sementara bursa saham Asiadi hari terakhir transaksi tahun 2008 bervariasi seperti Hang Seng turun 0,65%, KOSPI naik 0,62%, Nikkei naik 1,28%, Shanghai turun 0,95%, STI Singapura turun 0,43% dan Taiwan naik 3,91%.

Sepanjang tahun 2008 IHSG mencatat penurunan terburuk keempat di kawasan Asia Pasifik setelah Shenzen, Shanghai, dan Mumbai. IHSG pada 26 Desember 2008 tercatat sebesar 1.340,89 atau turun 51,17% dibandingkan 28 Desember 2007 yang sebesar 2.745,83.

Pelaku pasar berharap tahun 2009 mulai ada pemulihan meskipun masih dihantui pelemahan ekonomi global. Pelaku pasar melihat tahun 2009 masih banyak ketidakpastian di pasar global namun bukan berarti investasi pasar saham dijauhi.

Pasar saham akan kembali dibuka pada 5 Januari 2009 yang akan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kinerja Bulanan Reksadana

Berikut adalah Kinerja Reksadana yang dijual melalui Aperd Bank Jabar Banten

Bulan November 2008 :

danareksajs-optimanov-08

danareksa-spu-ii-nov-08

danareksa-melatiprem-nov-08

danareksa-mawar-nov-08

danareksa-dinar-nov-08

danareksa-anggrek-fleksibel-nov-08

bahana-dep-nop-08

bahana-bia-nop-08

bahana-bdi-nop-08

Bulan Desember 2008 :

dep-261208

bia-261208

bdi-261208

spu-ii-des-08

mawar-des-08

js-optimades-08

dinar-des-08

anggrek-fleksibel-des-08

Bank Jabar Banten Dan Reksadana

reksadana-copy-large1

Bank Jabar Banten sebagai Bank Pembangunan Daerah pertama yang memiliki ijin Agen Penjual Reksadana (APERD) , menawarkan beberapa produk Reksadana dari 4 Perusahaan manajer Investasi, antara lain:

1 DANAREKSA (Brosur), dengan produk Reksadana :

  • Danareksa JS Optima (Reksadana Pendapatan tetap)
  • Danareksa Seruni Pasar Uang II (Reksadana Pasar Uang)
  • Danareksa Anggrek fleksibel (Reksadana campuran)
  • Danareksa Indeks Syariah (Reksadana Indeks)
  • Danareksa Mawar (Reksadana Saham)

2. SYAILENDRA CAPITAL (Brosur), dengan produk Reksadana :

  • Syailendra Balanced Opportunity Fund (Reksadana Campuran)
  • Syailendra EquityOpportunity Fund (Reksadana Saham)

3.  BAHANA (Brosur), dengan produk Reksadana :

  • Bahana Investasi Abadi (Reksadana Pendapatan Tetap)
  • Bahana Dana Infrastruktur (Reksadana Campuran)
  • Dana Ekuitas Prima (Reksadana Saham)

4.  TRIMEGAH SECURITIES (Brosur), dengan produk Reksadana :

  • Trim Kas 2 (Reksadana Pasar Uang)
  • Trim Kombinasi 2 (Reksadana Campuran)
  • Trim Kapital Plus (Reksadana Saham)
  • Trim Syariah Berimbang (Reksadana Campuran)
  • Trim Syariah Saham (Reksadana Saham)

REKSADANA

Reksadana adalah wadah dan pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksadana. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek/sekuriti lainnya.

Menurut Undang-undang Pasar Modal nomor 8 Tahun 1995 pasal 1, ayat (27): “Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat Pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi.”

Dari kedua definisi di atas, terdapat tiga unsur penting dalam pengertian Reksadana yaitu:

  1. Adanya kumpulan dana masyarakat, baik individu maupun institusi
  2. Investasi bersama dalam bentuk suatu portofolio efek yang telah terdiversifikasi; dan
  3. Manajer Investasi dipercaya sebagai pengelola dana milik masyarakat investor.

Pada reksadana, manajemen investasi mengelola dana-dana yang ditempatkannya pada surat berharga dan merealisasikan keuntungan ataupun kerugian dan menerima dividen atau bunga yang dibukukannya ke dalam “Nilai Aktiva Bersih” (NAB) reksadana tersebut.

Kekayaan reksadana yang dikelola oleh manajer investasi tersebut wajib untuk disimpan pada bank kustodian yang tidak terafiliasi dengan manajer investasi, dimana bank kustodian inilah yang akan bertindak sebagai tempat penitipan kolektif dan administratur.

Bentuk Hukum Reksadana

Berdasarkan Undang-undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 pasal 18, ayat (1), bentuk hukum Reksadana di Indonesia ada dua, yakni Reksadana berbentuk Perseroan Terbatas (PT. Reksa Dana) dan Reksadana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK).

Reksa Dana berbentuk Perseroan (PT. Reksa Dana)

suatu perusahaan (perseroan terbatas), yang dari sisi bentuk hukum tidak berbeda dengan perusahaan lainnya. Perbedaan terletak pada jenis usaha, yaitu jenis usaha pengelolaan portofolio investasi.

Kontrak Investasi Kolektif

kontrak yang dibuat antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang juga mengikat pemegang Unit Penyertaan sebagai Investor. Melalui kontrak ini Manajer Investasi diberi wewenang untuk mengelola portofolio efek dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan penitipan dan administrasi investasi.

Karakteristik Reksadana

Berdasarkan karakteristiknya maka reksadana dapat digolongkan sebagai berikut:

Reksadana Terbuka

adalah reksadana yang dapat dijual kembali kepada Perusahaan Manajemen Investasi yang menerbitkannya tanpa melalui mekanisme perdagangan di Bursa efek. Harga jualnya biasanya sama dengan Nilai Aktiva Bersihnya. Sebagian besar reksadana yang ada saat ini adalah merupakan reksadana terbuka.

Reksadana Tertutup

adalah reksadana yang tidak dapat dijual kembali kepada perusahaan manajemen investasi yang menerbitkannya. Unit penyertaan reksadana tertutup hanya dapat dijual kembali kepada investor lain melalui mekanisme perdagangan di Bursa Efek. Harga jualnya bisa diatas atau dibawah Nilai Aktiva Bersihnya.

Jenis-jenis Reksadana

  1. Reksadana Pendapatan Tetap.

Reksadana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari dana yang dikelola (aktivanya) dalam bentuk efek bersifat utang.

  1. Reksadana Saham.

Reksadana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari dana yang dikelolanya dalam efek bersifat ekuitas.

  1. Reksadana Campuran.

Reksadana yang mempunyai perbandingan target aset alokasi pada efek saham dan pendapatan tetap yang tidak dapat dikategorikan ke dalam ketiga reksadana lainnya.

  1. Reksadana Pasar Uang.

Reksadana yang investasinya ditanam pada efek bersifat hutang dengan jatuh tempo yang kurang dari satu tahun.

Nilai Aktiva Bersih

NAB (Nilai Aktiva Bersih) merupakan salah satu tolok ukur dalam memantau hasil dari suatu Reksa Dana.NAB per saham/unit penyertaan adalah harga wajar dari portofolio suatu Reksadana setelah dikurangi biaya operasional kemudian dibagi jumlah saham/unit penyertaan yang telah beredar (dimiliki investor) pada saat tersebut.

Manfaat Reksadana

Reksa Dana memiliki beberapa manfaat yang menjadikannya sebagai salah satu alternatif investasi yang menarik antara lain:

  1. Dikelola oleh manajemen profesional

Pengelolaan portofolio suatu Reksa Dana dilaksanakan oleh Manajer Investasi yang memang mengkhususkan keahliannya dalam hal pengelolaan dana. Peran Manajer Investasi sangat penting mengingat Pemodal individu pada umumnya mempunyai keterbatasan waktu, sehingga tidak dapat melakukan riset secara langsung dalam menganalisa harga efek serta mengakses informasi ke pasar modal.

  1. Diversifikasi investasi

Diversifikasi atau penyebaran investasi yang terwujud dalam portofolio akan mengurangi risiko (tetapi tidak dapat menghilangkan), karena dana atau kekayaan Reksa Dana diinvestasikan pada berbagai jenis efek sehingga risikonya pun juga tersebar. Dengan kata lain, risikonya tidak sebesar risiko bila seorang membeli satu atau dua jenis saham atau efek secara individu.

  1. Transparansi informasi

Reksa Dana wajib memberikan informasi atas perkembangan portofolionya dan biayanya secara kontinyu sehingga pemegang Unit Penyertaan dapat memantau keuntungannya, biaya, dan risiko setiap saat.Pengelola Reksa Dana wajib mengumumkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) nya setiap hari di surat kabar serta menerbitkan laporan keuangan tengah tahunan dan tahunan serta prospektus secara teratur sehingga Investor dapat memonitor perkembangan investasinya secara rutin.

  1. Likuiditas yang tinggi

Agar investasi yang dilakukan berhasil, setiap instrumen investasi harus mempunyai tingkat likuiditas yang cukup tinggi. Dengan demikian, Pemodal dapat mencairkan kembali Unit Penyertaannya setiap saat sesuai ketetapan yang dibuat masing-masing Reksadana sehingga memudahkan investor mengelola kasnya. Reksadana terbuka wajib membeli kembali Unit Penyertaannya sehinga sifatnya sangat likuid.

  1. Biaya Rendah

Karena reksadana merupakan kumpulan dana dari banyak pemodal dan kemudian dikelola secara profesional, maka sejalan dengan besarnya kemampuan untuk melakukan investasi tersebut akan menghasilkan pula efisiensi biaya transaksi.

Biaya transaksi akan menjadi lebih rendah dibandingkan apabila Investor individu melakukan transaksi sendiri di bursa.

Risiko Investasi Reksa Dana

Untuk melakukan investasi Reksa Dana, Investor harus mengenal jenis risiko yang berpotensi timbul apabila membeli Reksadana.

  1. Risiko menurunnya NAB (Nilai Aktiva Bersih) Unit Penyertaan

Penurunan ini disebabkan oleh harga pasar dari instrumen investasi yang dimasukkan dalam portofolio Reksadana tersebut mengalami penurunan dibandingkan dari harga pembelian awal. Penyebab penurunan harga pasar portofolio investasi Reksadana bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya akibat kinerja bursa saham yang memburuk, terjadinya kinerja emiten yang memburuk, situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu, dan masih banyak penyebab fundamental lainnya.

  1. Risiko Likuiditas

Potensi risiko likuiditas ini bisa saja terjadi apabila pemegang Unit Penyertaan reksadana pada salah satu Manajer Investasi tertentu ternyata melakukan penarikkan dana dalam jumlah yang besar pada hari dan waktu yang sama. Istilahnya, Manajer Investasi tersebut mengalami rush (penarikan dana secara besar-besaran) atas Unit Penyertaan reksadana. Hal ini dapat terjadi apabila ada faktor negatif yang luar biasa sehingga mempengaruhi investor reksadana untuk melakukan penjualan kembali Unit Penyertaan reksadana tersebut. Faktor luar biasa tersebut di antaranya berupa situasi politik dan ekonomi yang memburuk, terjadinya penutupan atau kebangkrutan beberapa emiten publik yang saham atau obligasinya menjadi portofolio Reksadana tersebut, serta dilikuidasinya perusahaan Manajer Investasi sebagai pengelola Reksadana tersebut.

  1. Risiko Pasar

Risiko Pasar adalah situasi ketika harga instrumen investasi mengalami penurunan yang disebabkan oleh menurunnya kinerja pasar saham atau pasar obligasi secara drastis. Istilah lainnya adalah pasar sedang mengalami kondisi bearish, yaitu harga-harga saham atau instrumen investasi lainnya mengalami penurunan harga yang sangat drastis. Risiko pasar yang terjadi secara tidak langsung akan mengakibatkan NAB (Nilai Aktiva Bersih) yang ada pada Unit Penyertaan Reksadana akan mengalami penurunan juga. Oleh karena itu, apabila ingin membeli jenis Reksadana tertentu, Investor harus bisa memperhatikan tren pasar dari instrumen portofolio Reksadana itu sendiri.

  1. Risiko Default

Risiko Default terjadi jika pihak Manajer Investasi tersebut membeli obligasi milik emiten yang mengalami kesulitan keuangan padahal sebelumnya kinerja keuangan perusahaan tersebut masih baik-baik saja sehingga pihak emiten tersebut terpaksa tidak membayar kewajibannya. Risiko ini hendaknya dihindari dengan cara memilih Manajer Investasi yang menerapkan strategi pembelian portofolio investasi secara ketat.

Exchange Traded Fund

Exchange traded fund (ETF) [2] adalah sebuah reksadana yang merupakan suatu inovasi dalam dunia industri reksadana yang sifatnya mirip dengan suatu perusahaan terbuka dimana unit penyertaannya dapat diperdagangkan di bursa.

ETF ini adalah merupakan kombinasi dari reksadana tertutup dan reksadana terbuka, dan ETF ini biasanya adalah merupakan reksadana yang mengacu kepada indeks saham.

ETF ini lebih efisien daripada reksadana konvensional seperti yang kita kenal saat ini, dimana reksadana senantiasa menerbitkan unit penyertaan baru setiap harinya dan membeli kembali yang dijual oleh pemegang unit (manajer investasi harus menjual surat berharga yang merupakan aset reksadana tersebut untuk memenuhi kewajibannya membeli unit penyertaan yang dijual, sedangkan unit penyertaan ETF diperdagangkan langsung di bursa setiap hari (menyerupai reksadana tertutup, dimana tidak ada dapat dijual kembali kepada manajer investasi)

Di Indonesia, ETF ini disebut “Reksadana berbentuk kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek“, dan pada hari senin tanggal 4 Desember 2006, Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) telah menerbitkan suatu aturan baru yaitu peraturan nomor IV.B.3 tentang “Reksadana berbentuk kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di Bursa Efek”. [3]

Sumber : Wikipedia

Wealth Management…

Wealth management pada dasarnya merupakan jasa pengelolaan keuangan dan kekayaan, tidak terbatas dalam hal melakukan investasi, namun termasuk mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan keuangan pribadi. Dapat dikatakan bahwa wealth management adalah bertindak sebagai manager keuangan pribadi.

Pada dasarnya wealth management merupakan jasa yang membantu kita mencapai tujuan keuangan, berikut segala hal ikhwal aktivitas keuangan yang terkait dengan itu. Apabila kita memutuskan untuk mengikuti layanan jasa wealth management dari suatu institusi, pertama-tama kita akan dibuatkan suatu perencanaan keuangan berdasarkan kuesioner yang harus diisi secara jujur. Informasi seperti berapa jumlah harta yang dimiliki, jumlah utang, penghasilan, pengeluaran, istri, anak, asuransi, profil risiko, tujuan dan keinginan secara keuangan, dan lain sebagainya harus dikemukakan apa adanya. Seperti dokter, bila pasien berbohong, akan sulit bagi dokter untuk menduga secara tepat penyakit apa yang diderita oleh pasien. Demikian juga bagi seorang perencana keuangan yang menjadi bagian dari pelayanan wealth management, akan sulit membuat perencanaan dan nasihat yang tepat agar kita dapat mencapai tujuan keuangan kita.

Dengan melihat kondisi saat ini, tujuan yang ingin dicapai dan profil risiko kita, mereka akan menyusun suatu portfolio investasi, mengelola dana, asuransi, dan lain sebagainya. Walaupun kata akhirnya tergantung dari kita, namun itulah layanan wealth management yang menyeluruh.

Jika ada suatu lembaga keuangan mengaku memberikan layanan wealth management, tapi ternyata mereka hanya menawarkan deposito berjangka, atau menawarkan produk asuransi, atau sekadar menawarkan reksadana, hal itu bukanlah wealth management yang komprehensif. Pilihlah bank atau lembaga keuangan yang benar-benar menawarkan layanan wealth management yang terpadu dan mencakup semua aspek dalam perencanaan keuangan.

Ciri utama bahwa bank atau lembaga keuangan tersebut memiliki layanan yang lengkap adalah investasi yang ditawarkan mencakup produk keuangan dan non keuangan, dengan memberikan advis terhadap jenis investasi riil seperti rumah, emas, usaha prospektif dan lain-lain. Mereka juga tidak fanatik menawarkan produk mereka sendiri, mereka terbuka terhadap kemungkinan produk dari lembaga lain yang lebih cocok dengan kondisi kita. Mereka juga memiliki riset yang kuat terhadap pola hasil dan risiko dari setiap jenis investasi.

Pada dasarnya, aspek perencanaan keuangan adalah akumulasi kekayaan (investasi), proteksi terhadap kekayaan dan distribusi kekayaan (warisan). Jika bank atau lembaga keuangan menawarkan layanan wealth management yang mencakup seluruh aspek tersebut, itu adalah salah ciri layanan wealth management yang diberikan cukup memadai.

Kiat memilih

Setelah kita memiliki pemahaman yang baik mengenai apa itu wealth management maka:

  • Sebaiknya kita mengunjungi secara langsung sebanyak mungkin bank atau lembaga keuangan yang memberikan layanan wealth management. Tanyakan mengenai seluruh layanan yang akan diberikan kepada kita. Jangan terburu-buru memutuskan untuk mengikuti layanan tersebut sebelum membandingkan dengan yang lain.
  • Perhatikan dengan baik apakah bank atau lembaga keuangan yang menawarkan wealth management menyodorkan seorang perencana keuangan yang kompeten dan berpengalaman? Mungkin saja bank atau lembaga keuangan tersebut memiliki nama besar namun jika yang ditugaskan membantu kita tidak kompeten dan memiliki pengalaman luas, kita harus berhati-hati. Cara menyelidiki apakah perencana keuangan tersebut berkualitas atau tidak adalah tanyakan sudah berapa lama berkecimpung di bidang wealth management, apa latar belakang pendidikannya, cara melayani, dan lain-lain. Bila perlu, galilah informasi dari nasabah lain yang telah menyerahkan pengelolaan kekayaannya kepada perencana keuangan tersebut. Apakah mereka sangat puas, cukup puas, atau bahkan tidak puas?
  • Jangan segan-segan menanyakan biaya pengelolaan kekayaan tersebut. Perhitungkan antara biaya dengan manfaat yang didapat. Pada dasarnya, untuk setiap jenis investasi yang direkomendasikan wealth management, mereka akan mendapatkan jasa pengelolaan/fee dan akan membebankannya kepada kita, berapa pun hasil investasinya.

Tahukah Anda di Indonesia menurut Morgan Stanley Singapura diperkirakan terdapat 3.328 keluarga yang memiliki aset 5-20 juta dolar AS dan 167 keluarga yang memiliki aset 20-100 juta dolar AS? Hampir 80% keluarga kaya tersebut tinggal di Jakarta sementara 10% berada di Surabaya. Di Bandung sendiri terdapat sekira 167 keluarga dengan aset 5-20 juta dolar AS dan delapan keluarga dengan aset 20-100 juta dolar AS. Mungkin salah satu di antaranya adalah pembaca.

Setidaknya dalam tahun-tahun ke depan, kita berharap akan semakin banyak warga Jawa Barat yang dapat mengikuti jejak para keluarga kaya tersebut. Hal ini hanya untuk menjadikan motivasi, kalau orang lain bisa mengapa kita tidak? Mustahilkah bagi kita? Menurut TDM Waringin, menjadi orang kaya tidak ditentukan oleh seberapa besar jumlah penghasilan namun oleh seberapa besar uang yang dapat kita sisihkan untuk ditabung dan disisihkan untuk investasi. Jadi mengapa harus pesimis? Berpikir positif dan bersikap optimis adalah salah satu kunci mengatasi permasalahan kita saat ini. Perencanaan yang baik, termasuk dengan cara mengikuti wealth management adalah salah satu cara mengantisipasi masa depan sehingga kehidupan kita di masa datang akan lebih baik. Uang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya tanpa uang akan membuat kita kerepotan dalam menjalani kehidupan ini.***

Dikutip dari Pikiran Rakyat.